Header Ads

Pengamat ini bilang, Pilih Agus atau Anies Umat Islam Belum tentu Menang

LemahirengMedia--- Tak sampai sepekan, warga jakarta akan menentukan sikapnya untuk dipimpin oleh siapa selama 5 tahun kedepan. Pemilihan Gubernur DKI ini memang menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Ditambah lagi kontestannya salah satunya adalah penghina Islam alias Ahok, secara warga jakarta mayoritas muslim. 


Namun patut di akui, kalau kekuatan politik dan modal Ahok dalam kontelasi politik Jakarta (nasional) cukup besar. Karena itu wajar saja kemudian umat islam reaktif terkait dengan melenggangya Ahok menjadi kontestan di Pilgub Jakarta. 

Kondisi ini mendapat perhatian dari Pemmerhari Sosial Politik Agus Trisa dalam akun facebooknya. Agus mencoba untuk mengkontruksi cara berfikir yang benar untuk umat Islam, termasuk pilihan Golput dengan cerdas. 

Berikut stataus Agus : 

Bukankah golput itu akan melebarkan jalan bagi Ahok untuk berkuasa?

Ya memang. Bisa jadi. Sebab, yang menjadikan ukuran berkuasa atau tidaknya para paslon adalah melalui suara terbanyak. Karena itu, tidak memilih Agus-Silfi atau Anies-Sandi, memang bisa jadi akan semakin memberikan peluang bagi Ahok berkuasa. Ini wajar, jika ada yang golput, maka akan menjadikan salah satu paslon semakin melenggang ke kursi kekuasaan. Termasuk jika calonnya adalah muslim semua. Karena memang begitulah aturan main memilih pemimpin di negara demokrasi macam Indonesia. Intinya, jumlah suara.

Tetapi, ketika memilih Agus-Silfi atau Anies-Sandi pun, juga tidak akan membuat umat menang. Sebab, sekalipun Agus-Silfi dan Anies-Sandi menang, umat Islam Jakarta juga tidak akan menang. Apalagi sejak awal deklarasi, kedua paslon muslim ini, sama sekali tidak mengusung ide Islam dalam perjuangannya, atau tidak semata2 mewakili umat Islam. Sebab, siapa pun yang menang, entah itu Ahok-Jarot, Agus-Silfi, atau Anies-Sandi, tetap yang menang adalah sekulerisme. Mengapa sekulerisme yang menang? Sebab, yang bertarung adalah sekuler vs sekuler. Kepentingan selain Islam vs kepentingan selain Islam. Anies-Sandi atau Agus-Silfi yang menang, itu bukanlah kemenangan umat Islam. Karena tidak ada kepentingan Islam yang dipertaruhkan. Kedua paslon muslim itu tidak pernah menyatakan diri majunya mereka di pilkada adalah untuk memperjuangkan umat Islam dan kepentingan2 Islam. 

Lalu, kalau golput sama artinya dengan membuka jalan Ahok menang dalam Pilkada DKI, apakah tidak ada manfaatnya bagi umat? Tentu tidak bisa dikatakan demikian. Agar golputnya bermanfaat bagi umat, maka golputnya harus diiringi dengan sikap memahamkan umat akan rusaknya sistem demokrasi sekuler. Sehingga umat akan semakin banyak yang memahami, bahwa demokrasi adalah akar masalahnya, bukan pada diri 
Ahok dan Jarot. 

Pelajaran penting kita apa?

Yaitu, bahwa umat Islam hendaknya tidak tertipu dengan isu pilih calon pemimpin muslim. Isu semacam itu, mau tidak mau, justru akan dipolitisasi. Seperti apapun umat coba berdalih, tetap saja secara tidak sadar para paslon muslim ini akan cari keuntungan dari isu ini. Padahal, mereka (para paslon) muslim itu, sama sekali tidak mengusung ide Islam atau nyata2 berjuang untuk umat Islam. Dan itu, jelas akan mudah untuk dipolitisasi.

Kedua, hendaknya umat menyadari, hendaknya tidak melibatkan diri dalam perlombaan yang sejak awal sudah diketahui siapa pemenangnya. Sebab, perlombaan ini memiliki aturan. Siapa yang membuat aturan? Yaitu mereka yang berpegang pada sekulerisme. Sebab, mereka tidak membuat aturan perlombaan, kecuali untuk kepentingan sekulerisme. Maka, untuk apa umat Islam ikut perlombaan yang memang Yaitu, bahwa umat Islam hendaknya tidak tertipu dengan isu pilih calon pemimpin muslim. Isu semacam itu, mau tidak mau, justru akan dipolitisasi. Seperti apapun umat coba berdalih, tetap saja secara tidak sadar para paslon muslim ini akan cari keuntungan dari isu ini. Padahal, mereka (para paslon) muslim itu, sama sekali tidak mengusung ide Islam atau nyata2 berjuang untuk umat Islam. Dan itu, jelas akan mudah untuk dipolitisasi.

Kedua, hendaknya umat menyadari, hendaknya tidak melibatkan diri dalam perlombaan yang sejak awal sudah diketahui siapa pemenangnya. Sebab, perlombaan ini memiliki aturan. Siapa yang membuat aturan? Yaitu mereka yang berpegang pada sekulerisme. Sebab, mereka tidak membuat aturan perlombaan, kecuali untuk kepentingan sekulerisme. Maka, untuk apa umat Islam ikut perlombaan yang memang disediakan, bukan untuk dirinya?

Ini pendapat saya pribadi.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.